| Antar Juragan Ario |
| Pintu Masuk Selekta |
| Full Team |
| Makan Rujak |
Uji silang dengan menggunakan metode LQAS sudah dilaksanakan. Ada yang mulai triwulan 2 tahun 2013 dan sebagainya.
Beberapa komponen yang harus disiapkan untuk menunjang pelaksanaan metode ini. Antara lain di tingkat kabupaten/kota diperlukan TB12 yang sudah diberikan rumus agar lebih mudah dalam melakukan analisa.
Mengingat seorang wasor atau pengelola program TB di tingkat kabupaten/kota mempunyai banyak pekerjaan atau kesibukan ( hhehehheehhe sok sibuk kali…..kayak penulis…..) maka kami mencoba untuk mengaplikasikan TB12 dengan menggunakan Microsoft Excel yang diberikan beberapa sentuhan atau polesan, sehingga beban kerja bisa sedikit diambil alih oleh Excel.
Langsung aja ke TKP…..
Semoga bermanfaat……………
Download TB12(LQAS) modiv
Download PETUNJUK PENGISIAN FORM TB12
Pengelola Program TB Paru atau yang biasa disebut Wakil Supervisor dan disingkat menjadi Wasor TB mempunyai beberapa tugas yang harus dikerjakan. Tidak hanya sebagai collecting data tetapi harus mampu membuat analisa data sehingga Program Pemberantasan Penyakit TB di Kabupaten atau Kota dan Indonesia dapat berjalan dengan baik.
Adapun Tugas yang harus dikerjakan sebagai berikut:
Penyakit Tuberkulosis yang tidak tertangani dengan tepat dan adequat dapat menyebabkan terjadinya kekebalan terhadap kuman Tuberkulosis. Strategi DOTS yang telah dicanangkan oleh pemerintah dengan 5 komponennya harus benar-benar diterapkan agar penatalaksanaan program TB dapat tercapai dan ancaman terjadinya kekebalan obat dapat diminimalkan.
TB yang kebal obat atau kita kenal dengan sebutan MDR (Multiple Drug Resisten) dengan nama program PMDT (Programmatic Management of Drug Resisten TB) atau MTTRO (Managemen Terpadu Pengendalian TB Resisten Obat) dan mungkin akan berubah lagi………. adalah penyakit Tuberkulosis (TB) yang disebabkan oleh kuman Tuberkulosis yang telah resisten (kebal) terhadap 2 jenis OAT (Obat Anti TB) Lini Pertama yaitu INH dan Rifampisin.
Penanganan TB kebat obat (MDR) sangat sulit dan dibutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan penanganan TB Biasa. Bila TB Biasa dibutuhkan waktu antara 6-9 bulan pengobatan, TB MDR membutuhkan waktu pengobatan antara 19-24 bulan.
Penyebab Terjadinya Resistensi OAT
Penyebab Utama terjadinya resistensi kuman terhadap OAT adalah dari ulah kita sendiri yaitu penatalaksanaan TB yang tidak adequat, dapat dilihat dari :
1. Petugas Kesehatan, yaitu karena :
2. Pasien
Identifikasi Suspek TB MDR
Suspek TB MDR adalah semua orang yang mempunyai Gejala TB dan memenuhi salah satu kriteria dibawah ini:
Catatan: cara ini bisa dipakai atau diterapkan tidak hanya pada Power Point saja, tetapi bisa juga untuk MS Word dan lain-lain.
| BTA POSITIF BARU | ||
| No | Item Filterisasi | Keterangan |
| 1 | Regimen yang diberikan | pilih angka “1” |
| 2 | Klasifikasi Penyakit | pilih “P” |
| 3 | Tipe Pasien Kolom Baru | pilih “B” |
| 4 | Hasil Lab sebelum pengobatan | pilih “Pos” |
| 5 | Hasil Lab Akhir Intensif | pilih “Blank” |
| BTA POSITIF KAMBUH | ||
| No | Item Filterisasi | Keterangan |
| 1 | Regimen yang diberikan | pilih angka “2” |
| 2 | Klasifikasi Penyakit | pilih “P” |
| 3 | Tipe Pasien Kolom Kambuh | pilih “K” |
| 4 | Hasil Lab sebelum pengobatan | pilih “Pos” |
| 5 | Hasil Lab Akhir Intensif | pilih “Blank” |
| AKHIR PENGOBATAN BTA POSITIF BARU | ||
| No | Item Filterisasi | Keterangan |
| 1 | Regimen yang diberikan | pilih angka “1” |
| 2 | Klasifikasi Penyakit | pilih “P” |
| 3 | Tipe Pasien Kolom Baru | pilih “B” |
| 4 | Hasil Lab sebelum pengobatan | pilih “Pos” |
| 5 | Kolom “CHECK” | pilih “hasil pengobatan??” |
| AKHIR PENGOBATAN BTA POSITIF KAMBUH | ||
| No | Item Filterisasi | Keterangan |
| 1 | Regimen yang diberikan | pilih angka “2” |
| 2 | Klasifikasi Penyakit | pilih “P” |
| 3 | Tipe Pasien Kolom Kambuh | pilih “K” |
| 4 | Hasil Lab sebelum pengobatan | pilih “Pos” |
| 5 | Kolom “CHECK” | pilih “hasil pengobatan??” |
| AKHIR PENGOBATAN BTA NEGATIF BARU | ||
| No | Item Filterisasi | Keterangan |
| 1 | Regimen yang diberikan | pilih angka “1” |
| 2 | Klasifikasi Penyakit | pilih “P” |
| 3 | Tipe Pasien Kolom Baru | pilih “B” |
| 4 | Hasil Lab sebelum pengobatan | pilih “Neg”, “X” dan “Blank” |
| 5 | Kolom “CHECK” | pilih “hasil pengobatan??” |
Setelah teori tentang uji silang dengan menggunakan metode LQAS kita pelajari, saatnya membuat sebuah tabel yang berisi data laboratorium. Kita siapkan data laboratorium tahun lalu yang meliputi data sediaan slide positif, negatif dan jumlah seluruh slide. Tabel dibuat dengan menggunakan Microsoft Excel.
LANGKAH-LANGKAHNYA :
Buat tabel kedua tentang Pengambilan Sampling disebelah kanan tabel kesatu. Tabel ini berisi jumlah data sampel yang harus diambil sesuai dengan perpotongan SPR dan Jumlah Slide Negatif. Angka 1 sampai dengan 14 (mendatar) adalah SPR, 1=2,5%, 2=5,0%, 3=7,5% dst. Angka 1 sampai dengan 12 (menurun) adalah Jumlah Sediaan Negatif dalam 1 tahun, 1=100, 2=200, 3=300 dst. Penggantian nilai SPR dan Jumlah sediaan negatif dalam 1 tahun diperlukan untuk pembuatan rumus, tetapi mengurangi makna dari sebuah tabel.
PEMBUATAN RUMUS UNTUK TABEL KESATU
Hasilnya seperti gambar dibawah ini
Catatan penambahan fasyankes dibawah fasyankes C sebaiknya jangan gunakan Insert Row karena akan merubah struktur tabel kedua.
Semoga bermanfaat………
REVISI
Setelah adanya Pertemuan Monev LQAS pada bulan September 2013, ada perubahan dalam menggunakan table untuk menentukan jumlah slide yang akan dilakukan Cross check. Dulu, SPR dan Slide Negatif pada tabel dibulatkan keatas. Sekarang SPR dan Slide Negatif dibulatkan ke angka terdekat,
Contoh file yang sudah kami revisi bisa di download Hitung SPR Rev
Upaya pengendalian Penyakit Tuberkulosis dengan menggunakan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) dengan 5 komponennya, yaitu :
Komponen yang kedua : Penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya, ini sangat berkaitan erat dengan mutu laboratorium di fasilitas pelayanan kesehatan. Laboratorium untuk pemeriksaan dahak sangat menentukan dalam mendiagnosis pada suspek TB. Mutu kinerja laboratorium mikroskopis TB dilakukan melalui pelaksanaan Pemantapan Mutu Eksternal (PME) dengan melakukan Uji Silang sediaan BTA oleh Laboratorium Rujukan Uji Silang (RUS) dalam jejaring laboratorium di wilayah.
Selama ini Uji Silang sediaan BTA dilakukan dengan metode konvensional yaitu 100% sediaan positif ditambah 10% sediaan negatif dengan Error Rate <5%. Mulai tahun 2007 Ditjen P2&ML Kemenkes RI telah melakukan Workshop tentang Uji Silang dengan metode LQAS (Lot Quality Assurance Sampling) di beberapa wilayah di Indonesia. Hasil dari workshop tersebut mulai diterapkan pada tahun 2009.
Perbedaan Uji Silang Metode Konvensional dengan LQAS :
| Konvensional | LQAS |
| Samping : 100% slide positif ditambah 10% slide negatif | Samping : semua slide mendapat kesempatan yang sama |
| Pemilihan slide tergantung dari minat petugas | Pemilihan secara acak dengan menggunakan statistik sederhana |
| Formulir TB05, TB04 dan TB12 | Formulir TB05, TB04 dan TB12 yang disempurnakan |
| Penyimpanan dipisahkan antara slide positif dan negatif | Penyimpanan slide digabung sesuai dengan TB04 |
| Analisis Uji Silang adalah Error Rate | Berdasarkan derajat kesalahan |
| Error Rate >5% = jelek | Satu Kesalahan Besar atau tiga Kesalahan Kecil = jelek |
| Kualitas : Sediaan dan Pewarnaan | Kualitas : Spesimen, Pewarnaan, Kebersihan, Ketebalan, Ukuran dan Kerataan |
| Nama Fasyankes | Total Sediaan | Jumlah Sediaan Positif | Jumlah Sediaan Negatif |
| A | 428 | 34 | 394 |
| B | 1368 | 75 | 1293 |
| C | 633 | 40 | 593 |
| Nama Fasyankes | Total Sediaan | Jumlah Sediaan | S P R |
| A | 394 | 34 | 7,9% |
| B | 1293 | 75 | 5,5% |
| C | 593 | 40 | 6,3% |
Dengan adanya Uji Silang LQAS diharapkan mutu kinerja Laboratorium Pemeriksaan Tuberkulosis akan semakin terjamin dan memberikan kemudahan bagi pengelola program dalam melakukan analisa.